Jangan Takut Mengaku Dosa

15 Desember 2015
oleh: karisma
Alkisah..... "Besok kalau kalian sudah masuk dalam ruang pengakuan dosa, kalian harus segera berlutut di hadapan Romo lalu menyebutkan dosa-dosa kalian!" jelas seorang guru pada murid-murid komuni pertama. Seorang anak lalu menyahut, "dosa-dosa itu contohnya apa, Bu guru?" Menyadari murid-murid polosnya belum memahami betul konsep dosa, kemudian sang guru agama menjelaskan. "Kalian kan, sudah tahu sepuluh perintah Allah yang tidak boleh kita langgar, nah, kalau kalian merasa pernah melanggar sepuluh perintah Allah itu, ya, artinya kalian dosanya itu," jawab sang guru. Satu, jangan menyembah berhala, dua jangan menyebut nama Allah dengan tidak hormat, tiga kuduskanlah hari Tuhan, empat hormatilah ibu bapakmu, lima jangan membunuh, enam jangan berzinah...dan selanjutnya, kesepuluhnya telah dihafalkan oleh anak-anak komuni pertama sejak awal pelajaran komuni pertama. Namanya juga anak-anak usia kelas tiga atau empat SD, pasti pemahamannya belumlah sepenuhnya benar. Dengan bekal telah mengetahui dosa-dosanya serta telah menghafalkan doa tobat yang harus mereka doakan di ruang pengakuan, anak-anak dengan mantap siap untuk mengaku dosa sebelum diperkenankan menerima komuni pertama. Tibalah saat-saat paling mendebarkan dalam hidup itu. Semua anak berkumpul di gereja dan satu demi satu bergantian masuk dalam kamar pengakuan dan mengaku dosa di hadapan Romo. Banyak dari mereka yang wajahnya menggambarkan ketegangan tak terkira, khawatir kalau-kalau salah dalam berucap atau tiba-tiba lupa dengan doa tobat. Sejumlah anak yang telah mengaku dosa terlihat sumringah keluar dari ruang pengakuan dan mulai berdoa sesuai denda dosanya. Giliran saya sebentar lagi, tinggal dua antrian lagi dan saya harus masuk ruang pengakuan yang terlihat menyeramkan itu. Seorang teman saya baru saja keluar dari ruang pengakuan namun terlihat berbeda dengan anak-anak lain yang keluar dari kamar pengakuan. Saya pun bertanya, "Gimana broo, lancar kan?" Dengan wajah murung penuh penyesalan ia menjawab, "Aku lupa doa tobat broo, makanya tadi dimarahin Romo." Mendengar jawabanya sontak nyali saya semakin menciut. Keringat dingin mulai bercucuran melintasi wajah saya dan debar jantung seakan semakin menguat. "Sudah tenang saja, tidak usah kawatir," kata guru agama yang melihat ketegangan di wajah saya. Akhirnya tibalah saat-saat penting itu, nama saya dipanggil untuk masuk kamar pengakuan dosa. Pintu kayu kamar pengakuan dengan engsel tua yang sudah mulai berkarat itu terasa begitu dingin di tangan saya. Berat sekali rasanya menarik daun pintu jati itu untuk masuk dalam kamar pengakuan. Dan tibalah saya di dalam kamar pengakuan itu. Suasana begitu hening mencekam, hanya terdengar sayup-sayup suara percakapan teman-teman di luar ruangan. Ingin sekali rasanya saya lari dari ruangan ini dan segera terbebas dari situasi menyeramkan ini. Tapi toh saya tetap melangkah maju dan segera berlutut di bantalan tempat bersujud di ruang pengakuan. Tak berani saya menatap langsung sosok Romo tinggi besar berjubah putih sedikit kekuningan menggambarkan jubah yang sudah bertahun-tahun dipakainya. Saya hanya sekilas mengintip sosok Romo yang duduk di hadapan saya yang mengenakan stola berwarna hijau. Dalam hati saya berdoa, "Tuhan berikan saya keberanian untuk mengakukan dosa saya." Setelah Romo mengajak membuat tanda salib saya segera mengakukan dosa saya. "Romo, dosa-dosa saya adalah tidak nurut pada orang tua..." ungkap saya terbata-bata. "Heemm...lalu?," tanggapan Romo singkat. "Saya juga berdosa karena sering nakal sama adik saya, Romo dan yang terakhir saya telah berzinah...," lanjut saya. Suasana menjadi semakin hening beberapa saat, hingga romo mulai membuka matanya yang sebelumnya terpejam sambil mendengarkan pengakuan saya. "Kenapa tiba-tiba Romo di hadapan saya ini raut mukanya berubah dan matanya terlihat sedikit melotot kepada saya?" tanya saya dalam hati. Keringat dingin semakin membasahi wajah dan punggung saya, perlahan saya merasakan kemeja yang basah oleh keringat di bagian punggung saya membuat suasana semakin dingin. "Kamu anak kelas tiga SD kok sudah berbuat zinah? Memangnya apa yang kamu perbuat?" kata Romo sedikit membentak. Hancur sudah harapan saya untuk dapat menerima komuni pertama, tiba-tiba saya merasa bahwa saya tidak akan lulus dari pengakuan dosa sebelum komuni pertama ini, pikir saya. "E..ee...nganu, Romo... sa...saya ngintip celana dalam teman saya waktu mereka jongkok bermain pasir di depan rumah saya," jawab saya memberanikan diri. Dengan sedikit tersenyum Romo di hadapan saya itu lalu mulai memberkati saya dan mengampuni dosa saya. Namun beliau mengatakan kepada saya sebelum saya keluar ruang pengakuan, "Jangan berbuat zinah lagi ya!" Kisah tersebut merupakan sebuah bukti bahwa sering kali mengaku dosa menjadi hal yang menakutkan bagi banyak umat. Namun Bapa Suci Fransiskus sendiri mengatakan, "Do not be afraid of confession! (jangan takut mengaku dosa)" Jelas bahwa Bapa Suci ingin mengajak seluruh umat Allah untuk merayakan kerahiman Allah yang begitu Agung. Tidak perlu memilih Romo siapa yang akan mendengarkan pengakuan dosa Anda karena rahmat pengampunan yang kita terima, toh dari Tuhan sendiri. So, mari berbondong bondong kita menuju ruang pengakuan dosa dengan penuh rasa tobat dan kita melangkah keluar dari ruang pengakuan dengan rasa kebahagiaan yang penuh syukur atas rahmat pengampunan yang Tuhan berikan!