Pahlawan hari ini ….

10 November 2015
oleh: Thomas Dhani Eka Kurniawan

Oleh : Emanuel Astokodatu

Hari ini, tanggal 10 Nopember, bagi Bangsa dan Negeri kita adalah Hari Pahlawan. Pada hari Pahlawan ini kita memperingati kepahlawanan pejuang-pejuang kemerdekaan yang wafat pada perang melawan penjajah pada peristiwa tanggal 10 Nopember di kota Surabaya. Tetapi selanjutnya pada hari ini kita menghormati dan menghargai dengan memperingati dan menghayati kembali perjuangan semua para pahlawan negeri kita. Ada Pahlawan Peritis Kemerdekaan, Ada Pahlawan Pejuang Kemerdekaan. Ada Pahlawan Revolusi, Ada yang hanya disebut Pahlawan Nasional demikian saja. Kesemuanya itu diatur oleh UU no 20. Th 2009, pasal 25, dan 26. Disana disebut ada kriteria individu yang disebut pahlawan :

Mereka itu Warga Negara Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya:

a.    Telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/ perjuangan dalam bidang lain mencapai/merebut/ mempertahankan /mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

b.    Telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.

c.    Telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Itupun masih disyaratkan lagi  :

1.    Pengabdian dan Perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya.

2.    Perjuangan yang dilakukan mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

3.    Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi.

4.    Memiliki akhlak dan moral yang tinggi.

5.    Tidak menyerah pada lawan/musuh dalam perjuangannya.

6.    Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Pahlawan_Nasional_Indonesia)

Kepahlawanan bagaimanapun juga adalah penghargaan bagi orang atas dasar sebuah atau suatu prestasi. Penghargaan itu diberikan secara resmi dan teruji oleh Negara.

Kepahlawanan pada dasarnya adalah Pengabdian dan Perjuangan yang menuntut pengorbanan. Hal itu bisa dirintis dan diupayakan sejak awal, sejak muda, sejak sekarang. Maka kita bicara soal semangat kepahlawanan, yaitu hasrat hidup seperti diteladankan oleh para pahlawan. Pengabdian, pelayanan, dengan tulus jujur bukan untuk pencitraan diri tetapi untuk dan demi sesama ciptaan siapa saja dan apa saja, dan dengan demikianlah orang bisa bahagia dalam kebersamaan.

Semangat kepahlawanan sebenarnya bisa dilihat sebagai kebahagiaan yang altruis. Setiap orang tentu mau bahagia, itu sifat kecenderungan dasar manusiawi. Sifat ingin bahagia milik kita semua, tetapi tidak semua berfikir tentang bahagia dalam kebersamaan dengan semua sesama ciptaan Tuhan. Kebahagiaan altruis ini diteguhkan oleh keimanan tentang kebahagiaan dan Cinta Kasih Murni Tanpa pamrih.

Gereja Katolik juga setiap tanggal 1 Nopember beribadat dengan khusus tema penghormatan kepada (baca: penghargaan anumerta kepada) para orang kudus (pahlawan) dan para orang bahagia di surga. Ada penetapan resmi dan deklarasi kanonik (hukum gereja) bagi mereka dengan kriteria :

a.    Martir, shuhada, bagi mereka yang demi iman mati shahid.

b.    Saksi Iman, bagi mereka yang dalam hidupnya menunjukkan kehidupan saleh dengan ibadah dan karya kasihnya yang nyata dan pantas diteladani.

c.    Saksi Iman dalam kepemimpinan, kepakaran, dan keteladanan.

d.    Untuk semua kriteria itu dituntut adanya “pembenaran” oleh pengakuan umat beriman dan Tuhan sendiri oleh adanya “mukjizat”.

Gereja Paroki HKTY Ganjuran, memperingati Hari Pahlawan dan Para Leluhur pada setiap  tg 9 November, dengan Sadranan Agung. Sadranan Agung itu mau memberi garis bawah/tekanan pada Pengakuan tentang Kehidupan Kekal, Tuhan adalah Tuhan dari mereka yang sampai saat ini masih hidup kendati telah dipanggil kehadiratnya.

Manusia kini dan beriman tentang masa depan diperingatkan bahwa dalam mengejar kebaikan, mengejar prestasi, kita sangat rentan dengan kesombongan dan keangkuhan, yang sangat menjadikan Tuhan tidak berkenan. Manusia bisa cerdik tidak terasa dan tidak sadar dalam memelihara kesombongan. Dalih mengejar prestasi dalih berbuat kebaikan kesombongan dengan halus meresap kesanubari. Peluangnya pun tersebar diseluruh bidang kehidupan. Ada kebetulan kelebihan materi, harta, atau karena kelebihan kecerdasan, atau kita berasa lebih serba baik, bermoral, dalam lingkungan orang-orang baik, terpilih, sadar, suci dan lainnya. Kesombongan berhasrat untuk menjadi pahlawan……. Tetapi membuat Tuhan tidak berkenan, Tuhan tidak membenarkan.

Maka Pemazmur menasehati kita : “Karena Tuhan jiwaku bermegah, biarlah orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita” (Mz.34,3) Orang yang tinggi hati dan fasik, tidak jujur dan tidak tulus, “Mereka itu tidak tahu akan rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni, Sebab Tuhan telah menciptakan manusia untuk kebakaan dan dijadikanNya gambar hakekatNya sendiri”(Keb.2,22dst)

“Maka demikian juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata : Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” Demikian nasehat Sang Guru. (Lk.17. 10) Dengan nasehat ini kita justru akan menjadi pahlawan masa kini dan masa yang akan datang. Bukan pahlawan kesiangan……