Menjadi Pewarta yang Gembira Bersama Maria

01 Oktober 2015
oleh: Thomas Dhani Eka Kurniawan

Oleh : Fr.Antonius Hendri Atmoko

Di bulan Oktober ini, umat Katolik secara khusus menjadikan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Tentunya, ketika kita merenungkan mengenai Rosario Suci tak bisa dilepaskan dari peristiwa karya keselamatan Allah yang berpuncak dalam diri Yesus Kristus melalui bunda-Nya, Maria. Ya, Bunda Maria adalah sosok wanita yang sungguh bisa menjadi teladan bagi kita dalam menjalani hidup sehari-hari. Doa rosario itu sendiri dirancang untuk mengajak kita - para pecinta Yesus - untuk lebih mengenal dan mencintai-Nya, secara khusus menemukan pengalaman-pengalaman bersama Yesus dalam hidup keseharian kita dan makin mengenal peran ibu-Nya dalam sejarah keselamatan. Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita mengenal Bunda Maria. Dari sini perlu ditandaskan pula bahwa dalam doa rosario ini kita tidak semata-mata mengagung-agungkan atau menyembah Maria, tetapi melalui doa rosario suci bersama Maria kita diajak semakin mengenal dan mencintai Yesus.

Saat bermenung, aku tertarik untuk merenungkan peran Maria. Bunda Maria menjadi tokoh penting yang mempersiapkan kelahiran Yesus, melahirkan Yesus sendiri dan selanjutnya merawat, mengasuh, dan mendidik Yesus di Nazaret. Memang di dalam Kitab Suci, peran Maria tidaklah banyak disebut. Meski demikian, aku meyakini bahwa peran Maria tidak hanya di awal kisah kelahiran Yesus sampai pada awal karya-Nya saja, kemudian diceritakan kembali saat mendampingi Yesus pada waktu wafat (Yoh. 19:25-27) dan juga mendampingi para murid, tetapi hingga saat ini pun aku merasakan bagaimana Bunda Maria juga mendampingi Gereja. Bagiku, sosok Maria adalah sosok yang menarik untuk kuteladani. Dalam diri Maria, aku menemukan keteladanan seorang pribadi yang rendah hati dan selalu mempunyai relasi yang dekat dengan Yesus. Selain itu, dalam dirinya aku menemukan pula keteladanan kesetiaan total sebagai hamba Allah dalam menanggapi dan melaksanakan Sabda-Nya. Keteladanan hidupnya inilah yang ingin kuusahakan dan kuwujudnyatakan dalam hidup panggilanku sebagai calon imam. Aku berharap dan berusaha untuk bisa menjadi pewarta yang gembira bersama dengan Maria.

Sampai saat ini, aku bersyukur bahwa untuk meneladan dan semakin mendekatkan diri pada Yesus, aku mempunyai kesempatan dan waktu untuk berdevosi bersama Bunda Maria, entah itu dalam bentuk doa rosario maupun novena. Bagiku, ketika aku berdevosi bersama Bunda Maria, aku merasakan dan meyakini bahwa doa-doaku dihantarkan oleh Bunda Maria kepada Sang Putera, yaitu Yesus Kristus. Per Mariam ad Jesum. RTCB