Gereja Ganjuran

Sejarah berdirinya Gereja dan Candi Ganjuran merupakan prakarsa dari keluarga Schmutzer. Merupakan gereja Katolik pertama yang didirikan di kabupaten Bantul. Kompleks Gereja dan Candi Ganjuran terletak + 20 Km di sebelah selatan kota Yogyakarta, tepatnya berada di dusun Ganjuran, desa Sumbermulyo, kecamatan Bambanglipuro, Bantul. Sekarang ini, komplek Gereja Ganjuran telah dikenal oleh umat Katolik di Indonesia sebagai tempat ziarah yang bernuansa jawa. Tidak banyak terdapat tempat ziarah umat Katolik yang memiliki nuansa budaya jawa, terlebih juga terdapat sebuah candi bergaya Hindu-Budha-Jawa sebagai tempat berdoa. Karena kebanyakan tempat ziarah umat Katolik di Indonesia berbentuk Gua Maria.

Nuansa budaya Jawa yang digunakan Schmutzer dalam membangun kompleks Gereja Ganjuran merupakan bentuk proses inkulturasi. Sebagai seorang yang beriman Katolik, keluarga Schmutzer ingin menghidupi imannya dalam konteks budaya dimana mereka tinggal. Sebagai bagian dari pengalaman iman, Schmutzer membangun rumah sakit, menyokong orang miskin, mendidik orang yang belum terpelajar dan mereka mengangkat martabat penduduk dengan mendukung penduduk Ganjuran untuk tetap melaksanakan adat-istiadat mereka walaupun perlahan-lahan diberi nilai-nilai Kristiani.

Sejarah Perkembangan Gereja Ganjuran

Berawal dari kebutuhan tempat ibadah bagi para karyawan pabrik gula dan masyarakat sekitar Ganjuran sehingga mendorong dibangunnya sebuah gedung gereja. Hal ini menunjukan bahwa keluarga Schmutzer tidak hanya memikirkan kesejahteraan masyarakat dalam bentuk ekonomi saja, namun juga perkembangan iman kekatolikan. Sebagai seorang Belanda yang jatuh cinta pada budaya jawa, Schmutzer memiliki keinginan membuat sebuah gereja dengan corak Jawa. Oleh karena itu, Schmutzer meminta ijin kepada Tahtah Suci untuk membangun gereja dengan corak Jawa. Namun, hanya patung Altar Jawa dan patung Hati Kudus yang disetujui oleh Tahtah Suci. Bangunan gereja masih menggunakan gaya bangunan Belanda. Pembangunan gereja berhasil diselesaikan pada tanggal 16 April 1924, namum baru beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Agustus 1924, Vicaris Apostolik Batavia Mgr. J. M van Velsen hadir di Ganjuran untuk memberkati altar.

Pada waktu itu, inkulturasi dalam gereja Katolik belum menjadi sebuah hal yang lumrah, namun Schmutzer sudah mulai membangun gereja dengan memasukan unsur budaya Jawa. Pembangunan gereja Ganjuran menjadi sejarah yang penting bagi proses inkulturasi budaya Jawa dalam iman kristiani. Terdapat sebuah relief pada altar tersebut yang menggambarkan pepohonan, bunga-bunga, tiga burung pemakan bangkai dan dua rusa yang sedang minum dari sumber air yang memancarkan tujuh aliran air. Terdapat juga dua buah patung malaikat dengan corak jawa dalam posisi menyembah. Selain altar yang dibuat dengan corak jawa, ada dua buah relief di kanan dan kiri gereja dengan bentuk relief Hati Kudus Yesus dan relief Ibu Maria. Relieh Hati Kudus Yesus digambarkan sebagai raja Jawa yang bertahta di singgasana, sedangkan Relief Ibu Maria digambarkan sebagai ratu Jawa yang sedang menggendong Yesus yang masih kecil.

Julius Schmutzer jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan serius, oleh karena itu pada tahun 1934 keluarga Schmutzer memutuskan untuk kembali ke Negeri Belanda dan menetap di Arnhem. Pengelolaan pabrik gula diserahkan kepada seorang administratur yang ditunjuk oleh keluarga Schmutzer. Kepergian keluarga Schmutzer berdampak bagi para katekis awam karena sebelumnya semua fasilitas didapat dari keluarga Schmutzer. Mereka dengan mandiri untuk terus mengajar agama diberbagai tempat. Demikian pula dengan pastur yang berkarya di gereja Ganjuran tidak lagi mendapatkan fasilitas dari pabrik gula. Ada 3 pastor yang berkarya di gereja Ganjuran sampai tahun 1934, yakni H. van Driessche, SJ, F. Strater, SJ, dan A. Djajaseputra, SJ. Sekolah-sekolah yang dibangun oleh keluarga Schmutzer diserahkan kepada Yayasan Kanisius. Tahun 1934-1940 merupakan masa persiapan menjadi sebuah Paroki yang diperjuangkan oleh pastor A. Soegijapranata, SJ dan pastor A. Elfrank, SJ namum baru resmi menjadi sebuah Paroki pada tahun 1940 dengan pastor A. Soegijapranata, SJ menjadi Pastor Paroki yang pertama. Seiring perkembangan umat Katolik yang besar, bangunan Gereja tidak lagi mampu menampung umat yang semakin banyak. Pada tahun 1942, dilakukan perluasan gedung ke arah barat dengan panjang 15 meter oleh pastor Soegijapranata, SJ.

Pada tahun 1948, pabrik gula Gondang Lipuro, seluruh perumahan orang Belanda dan gudang-gudang yang terletak di Ganjuran dan sekitarnya dihancurkan. Hal ini karena kedatangan pasukan sekutu untuk mengusai Indonesia kembali yang dikenal dengan istilah Clash II. Namun Gereja, candi, rumah sakit dan sekolah-sekolah tidak dihancurkan. Pada sebuah Arsip Nasional Belanda disebutkan bahwa ketika Revolusi 1947-1949, seluruh pabrik, rumah dihancurkan oleh para ekstrimis. Namun bagian dari misi, gereja, sekolah, rumah sakit tetap dilestarikan sebab ekstrimis menganggap itu bukan hak milik penjajah, tetapi hak milik orang Jawa.