Candi Ganjuran

Sejarah Candi Ganjuran

Dibangun oleh Schmutzer bersaudara pada tahun 1927 dan terletak persis di depan rumah keluarga Schmutzer. Tujuan dari pembangunan candi tersebut adalah sebagai monumen atas keberhasilan pabrik gulanya (Gondang lipuro) yang lolos dari krisis keuangan yang melanda dunia saat itu. Dimana pada saat itu banyak pabrik gula yang bangkrut namun parik gula keluarga Schmutzer dapat bertahan. Selain sebagai monumen ungkapan syukur atas kejayaan pabrik gula, monumen ini juga dibuat sebagai ungkapan iman Schmutzer kepada Hati Kudus Tuhan Yesus dalam bentuk kebudayaan Jawa. Peletakan batu pertama pembangunan candi Ganjuran dilakukan pada tanggal 26 Desember 1927, oleh Mgr van Velsen, SJ. Pada waktu itu juga dilakukan pemberkatan patung Hati Kudus kecil yang ditanam di dalam.

Menurut kesaksian L. van Ryckeversel, SJ yang menyaksikan upacara peletakan batu pertama pembangunan candi Hati Kudus Tuhan Yesus meyebutkan bahwa upacara tersebut bertepatan dengan hari jadi perkebunan tebu yang ke-65. Peringatan tersebut dirayakan dengan pesta yang meriah. Kemeriahan tersebut tidak hanya didasarkan atas kehadiran Mgr. van Velsen sebagai pemimpin upacara, namum dilihat dari maksud yang luhur dari pesta tersebut. Maksud luhur yang ingin disampaikan Schmutzer selaku pemilik perkembunan tebu adalah ingin mengingatkan peranan Kristus Raja di kalangan perkebunan tebu di Ganjuran. Pada waktu itu di Negeri Belanda sudah banyak di dirikan monumen untuk menghormati Hati Kudus Tuhan Yesus, tetapi di sini (Ganjuran) belum ada. Oleh karena itu dibangun monumen berbentuk candi bercorak Hindu-Jawa yang direncanakan oleh Dr. J Schmutzer.

Dikatakan juga dalam kesaksian tersebut bahwa upacara tersebut sekaligus merupakan ungkapan rasa terima kasih atas limpahan berkat Hati Kudus Tuhan Yesus bagi daerah ini, yang selama bertahun-tahun telah menderita kekurangan. Dicontohkan pada tahun 1882, perkebunan ini mengalami krisis dan diikuti situasi rawan selama 25 tahun berikutnya. Situasi tersebut disebabkan adanya persaingan dengan berbagai perkebunan tebu lain di tanah Jawa. Oleh karena itu, monumen candi di dirikan sebagai tanda syukur atas perlindungan Hati Kudus Tuhan Yesus. Bersamaan dengan pembangunan candi tersebut terdapat peningkatan taraf hidup masyarakat dilihat dari adanya gereja kecil, asrama anak-anak putri dan sekolah-sekolah yang jumlah muridnya kurang lebih 500 anak.