Kenduri Lintas Agama di Ganjuran

26 Juni 2016
oleh: Buletin Ganjuran
share

 

Kamis,23 juni 2016 Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran mengadakan upacara kenduri syukur yang merupakan salah satu acara dalam rangkaian Prosesi Agung Paroki Ganjuran. Kenduri ini dimaksudkan untuk mengucapkan syukur atas segala berkat yang diterima umat katolik terutama umat di sekitar Ganjuran dan untuk berdoa agar perayaan prosesi agung yang akan diselenggarakan pada tanggal 26 juni 2016 dapat berjalan dengan lancar. Acara ini juga bertujuan untuk melestarikan tradisi yang ada (kebudayaan Jawa). Kenduri ini dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan Juni sejak tahun 1999 hingga sekarang. Walaupun diselenggarakan oleh pihak gereja, namun acara kenduri ini juga mengundang masyarakat dari berbagai agama. Menurut Romo Gregorius Utomo yang merupakan budayawan sekaligus Pastor senior di Gereja Ganjuran alasan diadakannya kenduri lintas agama tersebut adalah karena semua makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan dan patut untuk selalu bersyukur. Acara ini dihadiri oleh Pastor Kepala Paroki Ganjuran Romo Herman, Romo Utomo, dan sejumlah pemuka agama yang berasal dari FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) dari seluruh jenis agama di Kabupaten Bantul antara lain Katolik, Kristen, Islam, Hindhu, Budha, dan aliran kepercayaan. Kenduri yang diselenggarakan di pelataran Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran ini dihadiri pula oleh umat sekitar Ganjuran baik laki-laki maupun perempuan. Umat dan masyarakat yang mengikuti perayaan kenduri tersebut mencapai kurang lebih 500 orang. Pada perayaan kenduri tersebut setiap lingkungan di Paroki Ganjuran menyediakan kurang lebih 10 besek makanan yang nantinya akan dibagikan kepada seluruh umat yang hadir dalam kenduri tersebut. Berbeda dengan kenduri yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sekarang ini yang sering kali untuk menghemat waktu dan biaya, makanan dalam besek diisi dengan makanan instan, kenduri di Ganjuran menyediakan makanan alami sebagai wujud perhatian umat untuk kelestarian lingkungan. Selain nasi berkat dalam besek yang akan dibagikan kepada yang hadir, nasi tumpeng lengkap juga disediakan di tengah-tengah umat yang duduk bersila di Mandala Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran ini. "Makna tumpeng dan hasil bumi yang ada di hadapan pemuka agama ini adalah sebagai wujud syukur dan penyembahan kepada  Raja yang Mahatinggi," ungkap Romo Utomo menjelaskan. Dalam acara tersebut setiap pemuka agama diberi kesempatan untuk mengungkapkan gagasan dan pendapat  mengenai Bhineka Tunggal Ika, dan kemudian memimpin doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.