Ironi Tilas Schmutzer yang Diabadikan-Pameran Fotografi Ganjuran

25 Agustus 2015
oleh: karisma
share

Pemandangan yang tidak biasa akan terlihat ketika memasuki komplek gereja Ganjuran, khususnya di pendopo yang sering kali menjadi tempat pertemuan ataupun peristirahatan umat maupun peziarah. Sejumlah figura tergantung rapi berjajar pada tepian pendopo dan di dalamnya terpampang foto-foto hasil karya komunitas fotografi Paroki Ganjuran. Ketika dicermati, banyak dari antara foto hasil karya anggota komunitas fotografi Ganjuran yang menampilkan sisa-sisa bangunan terbengkalai yang awalnya merupakan bangunan-bangunan yang didirikan melalui karya keluarga Schmutzer di tanah Jawa, khususnya di Ganjuran.

Pameran fotografi yang mengambil tema "Napak Tilas Karya Schmutzer di Ganjuran" ini merupakan pameran fotografi yang ketiga yang diselenggarakan oleh komunitas fotografi Ganjuran. Pameran ini resmi dibuka oleh Romo Herman sebagai pastor kepala Paroki Ganjuran pada tanggal 23 Agustus lalu bersamaan dengan perayaan Ekaristi Syukur 91 tahun Ganjuran dan akan berlangsung hingga tanggal 31 Agustus.  "Kami ingin terus berkarya dengan mengangkat tema-tema tertentu setiap tahunnya. Tahun ini kami ingin membangkitkan kembali kesadaran umat Ganjuran akan karya-karya Schmutzer yang mulai banyak dilupakan," ungkap Janu Haryono yang merupakan anggota senior komunitas fotografi Ganjuran. Foto-foto bertemakan sekolah banyak menjadi objek dari pameran kali ini. Terdapat pula objek lain seperti pintu air, rumah sakit serta sisa-sisa pabrik gula yang merupakan 'petilasan' Schmutzer di Ganjuran.

Pada awalnya keluarga Schmutzer sebagai cikal bakal Paroki Ganjuran memiliki perhatian besar pada pendidikan terhadap orang-orang pribumi sehingga dibangunlah dua belas sekolah di sekitar Ganjuran. Selain perhatiannya pada pendidikan, Schmutzer juga memperhatikan kehidupan pribumi dengan membangun rumah sakit, pintu air dan bangunan lainnya. Seiring berjalannya waktu banyak peninggalan keluarga Schmutzer tersebut yang tidak digunakan lagi dan semakin terbengkalai serta diabaikan. Banyak dari bangunan tersebut yang telah berjasa bagi banyak orang justru kini terbengkalai dan dibiarkan mangkrak. "Saya dulu belajar di SD Kanisius Cepoko yang juga sekolah peninggalan Schmutzer, tapi sekarang sekolah itu sudah tutup karena tidak punya murid dan bangunannya sekarang dipakai penduduk sekitar untuk mepe gabah (menjemur padi)," ungkap Indantoko yang juga merupakan anggota komunitas fotografi Ganjuran.

Persaingan dalam dunia pendidikan yang begitu sengit membuat sekolah-sekolah berlomba-lomba untuk meningkatkan mutunya dan mendapatkan peserta didik sebanyak-banyaknya. Tidak jarang sekolah-sekolah yang tidak mampu bersaing akhirnya harus gulung tikar dan ditinggalkan, termasuk di antaranya sekolah-sekolah katolik peninggalan Schmutzer. Ironisnya adalah bahwa banyak dari umat katolik sendiri yang justru mengarahkan anak-anaknya untuk masuk sekolah negeri. Ironi tersebut begitu kental disuguhkan dalam pameran fotografi Ganjuran ini. Pada salah satu foto yang dipamerkan ditampilkan gambaran gedung sekolah yang kotor berdebu yang tidak lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Ternyata sekolah yang menjadi objek foto tersebut adalah sekolah yang belum lama tutup karena tidak lagi diminati dan tidak memiliki murid. "Sedih rasanya melihat karya Schmutzer yang tak terawat dan ditinggalkan, apalagi sekolah tersebut baru saja ditutup karena tidak memiliki murid," tegas Janu Haryono menutup pembicaraan sore itu.