BERITA TERBARU

26 JUN
KENDURI LINTAS AGAMA DI GANJURAN

 

Kamis,23 juni 2016 Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran mengadakan upacara kenduri syukur yang merupakan ...


baca selengkapnya

RENUNGAN

Jangan Takut Mengaku Dosa

Alkisah..... "Besok kalau kalian sudah masuk dalam ruang pengakuan dosa, kalian harus segera berlutut di hadapan Romo lalu menyebutkan dosa-dosa kalian!" jelas seorang guru pada murid-murid komuni pertama. Seorang anak lalu menyahut, "dosa-dosa itu contohnya apa, Bu guru?" Menyadari murid-murid polosnya belum memahami betul konsep dosa, kemudian sang guru agama menjelaskan. "Kalian kan, sudah tahu sepuluh perintah Allah yang tidak boleh kita langgar, nah, kalau kalian merasa pernah melan... baca lebih lanjut
lihat semua renungan

JADWAL MISA

Misa Harian

Senin, Selasa, Rabu 05:30 Bahasa Indonesia
Kamis, Jumat, Sabtu 05:30 Bahasa Jawa

 

Misa Mingguan

Sabtu 16:00 Bahasa Jawa
  18:00 Bahasa Indonesia
Minggu 07:00 Bahasa Jawa
  16:00 Bahasa Indonesia

 

Misa Bulanan

Misa malam Jumat Pertama, setiap hari Kamis minggu pertama, pukul 19:00 bertempat di halaman Candi Ganjuran.

 

Misa Tahunan

Misa Prosesi Agung, setiap hari Minggu terakhir di bulan Juni.

Agenda Minggu Ini



SEJARAH GEREJA GANJURAN

Sejarah berdirinya Gereja dan Candi Ganjuran merupakan prakarsa dari keluarga Schmutzer. Merupakan gereja Katolik pertama yang didirikan di kabupaten Bantul. Kompleks Gereja dan Candi Ganjuran terletak + 20 Km di sebelah selatan kota Yogyakarta, tepatnya berada di dusun Ganjuran, desa Sumbermulyo, kecamatan Bambanglipuro, Bantul. Sekarang ini, komplek Gereja Ganjuran telah dikenal oleh umat Katolik di Indonesia sebagai tempat ziarah yang bernuansa jawa. Tidak banyak terdapat tempat ziarah umat Katolik yang memiliki nuansa budaya jawa, terlebih juga terdapat sebuah candi bergaya Hindu-Budha-Jawa sebagai tempat berdoa. Karena kebanyakan tempat ziarah umat Katolik di Indonesia berbentuk Gua Maria.

Nuansa budaya Jawa yang digunakan Schmutzer dalam membangun kompleks Gereja Ganjuran merupakan bentuk proses inkulturasi. Sebagai seorang yang beriman Katolik, keluarga Schmutzer ingin menghidupi imannya dalam konteks budaya dimana mereka tinggal. Sebagai bagian dari pengalaman iman, Schmutzer membangun rumah sakit, menyokong orang miskin, mendidik orang yang belum terpelajar dan mereka mengangkat martabat penduduk dengan mendukung penduduk Ganjuran untuk tetap melaksanakan adat-istiadat mereka walaupun perlahan-lahan diberi nilai-nilai Kristiani.

baca selengkapnya